Just another WordPress.com site

>

. Kamis, 11 Juni 2009

.fullpost{display:inline;} .fullpost{display:inline;} Oleh: affa nur jentrek rijoimo
Cogito, ergo sum (aku berfikir maka aku ada). Begitulah ungkapan klasik dari Bapak Filsafat Descartes. Berfikir sebagai aktivitas mental merupakan ciri berfungsinya otak, di mana hal ini merupakan ciri khas manusia sebagai thinking animal, hayawân al-nâthiq atau makhluk berakal. Faktor potensi akal yang kompatibel dalam menerima pengetahuan disatu sisi, serta keberadaan manusia sebagai makhluk berperadaban disisi lain, cukuplah menjadi alasan bahwa pendidikan adalah kebutuhan yang mutlak dipenuhi. Sebagai makhluk berperadaban, seorang anak manusia dituntut untuk berpola hidup dan bertingkah laku beradab. Sebagai sesuatu yang lebih bersifat abstrak, keberadaban manusia bisa dicapai melalui penanaman nilai, yang didahului dengan proses transfer pengetahuan atau belajar.

Pendidikan, sebagai soko guru bagi perkembangan masyarakat dan peradabannya, adalah parameter untuk mengukur maju tidaknya sebuah komunitas masyarakat. Dari pengetahuan yang didapat dari proses pendidikan, manusia diharapkan mengalami proses perubahan dari afektif, kognitif dan behavior. Sehingga karenanya, manusia bisa bersikap mandiri baik secara ekonomi maupun politik, memiliki otonomi moral spiritual serta mampu survive dalam mengembangkan kehidupannya.

Pasca era reformasi, sektor pendidikan mendapatkan perhatian lebih. Dari semula anggaran belanja negara untuk sektor ini yang tidak lebih dari 11 % kini meningkat hingga 20 % dari total anggaran pembelanjaan.

Meski demikian, awal yang bagus ini bukan berarti tidak menyisakan masalah. Sejumlah problematika masih menggelayuti dunia pendidikan. Secara sederhana, dunia pendidikan tengah menghadapi dua problem mendasar. Pertama, problem kebijakan pendidikan, yakni menyangkut perihal fasilitas proses belajar-mengajar, kualitas tenaga pengajar, serta mekanisme pengelolaannya. Kedua, problem ideologi pendidikan, yakni menyangkut soal paradigma pendidikan kurikulum yang digunakan serta metode pengajaran yang dipakai.[1]

Secara ideologis, pendidikan seharusnya dijauhkan dari pengaruh dan kepentingan yang mengganggu serta menghambat tercapainya cita-cita ideal. Namun pada kenyataannya, pendidikan yang dianggap sakral juga terciprati, bahkan menjadi pendulum bagi mekarnya ideologi liberalisme, penindasan dan hegemoni, demi sebuah kepentingan kekuasaan.

Pendidikan seperti tak lebih sekedar proses investasi modal yang berujung pada keuntungan material, berupa pekerjaan yang layak atau penghasilan yang memadai. Belum lagi, secara faktual bagaimana buramnya potret pendidikan kita, dengan semakin banyaknya tindakan asusila yang bertentangan dengan norma dan etika pendidikan telah dilakukan oleh para pelajar di negeri ini. Mulai dari tindakan “klasik”, kenakalan remaja, tawuran, hingga tindakan “modern kontemporer” seperti pergaulan dan seks bebas, merebaknya video porno dengan pelaku para muda-mudi pelajar.

Masa sekolah seringkali dipenuhi hura-hura. Maka, meminjam motto sebuah iklan, ”Jalan pintas pun dianggap pantas”, terjadilah jual beli dan pemalsuan ijazah, kebocoran soal ujian negara di berbagai tempat, hingga protes keras peningkatan standar kelulusan. Moralitas yang mestinya menjadi landasan tindak bagi para pelajar, terasa terabaikan, bahkan tertinggal sama sekali. Karenanya, kita layak mengajukan sebuah pertanyaan, what’s wrong? Apanya yang salah, apakah sistem pendidikannya, ideologi kebijakannya, tenaga pengajar, atau bahkan para pelajarnya yang terlampau sulit dibenahi moralitasnya? Tulisan ini akan sekelumit mengulas peran strategis ilmu pengetahuan dan fungsi utamanya sebagai pengendali budaya dan peradaban manusia.

Manusia hidup di dunia tak lain hanyalah untuk beribadah. Maka, selain segala perbuatan yang an sich berdimensi ubudiyah, hal-hal lainnya juga harus dilandasi ibadah, tak terkecuali ilmu pengetahuan. Proses pencarian ilmu haruslah diarahkan pada tujuan penghambaan, mulai dari tata cara, motivasi dan amal nyatanya. Dalam istilah etika keilmuan, ilmu pengetahuan semacam ini kerap disebut ilmu nafi’ (ilmu yang bermanfaat).

Al-Qur’an menyebutnya sebagai al-hikmah, sebagaimana firman Allah: “Yu’ti al hikmata man yasyaau waman yu’ta al hikmata faqad uutiya hairan katsiran wama yadzkuru illa ulul al baabi,” QS. al-Baqarah: 269).
يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ
Artinya: “Allah menganugerahkan al-hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa yang dianugerahi al-hikmah itu, maka ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah Swt.).”

Dalam Tafsir Jalalain disebutkan, bahwa al-hikmah dalam ayat di atas adalah ilmu nafi’ (ilmu yang bermanfaat) yang menyebabkan amaliah nyata.[2]

Secara umum, ilmu nafi’ adalah ilmu yang mengantarkan pemiliknya pada rasa takut kepada Allah, tawadlu’ atau rendah diri, pengharapan kebaikan dan rasa kasih sayang pada sesama, pendorong atas hubungan baik dengan Allah, kepatuhan kepada-Nya, pencarian akan sesuatu yang halal, pemeliharaan anggota badan dari perbuatan maksiat, penunaian amanah, pelawan keinginan hawa nafsu dan menjaganya dari niat kotor. Secara terperinci, ilmu pengetahuan semacam ini mencakup pengetahuan tentang Allah dan sifat-sifat-Nya serta pengetahuan tentang tata cara dan etika penghambaan kepada-Nya.[3]

Rasulullah saw. sendiri amat memberikan perhatian khusus terhadap keberadaan ilmu nafi’, hingga dalam salah satu doanya beliau berkata: “Allahumma inni a’udhubika min ilmin la yanfa’u,” HR. Muslim, Tumudzi dan Nasai)

اللهم إني أعوذ بك من علم لا ينفع (رواه مسلم والترمذي والنسائي)
Artinya: “Ya Allah, aku berlindung pada-Mu dari ilmu yang tak bermanfaat.” (HR. Muslim, Tumudzi dan Nasai)

Abdur Rauf al-Munawi ketika memberikan komentar atas doa Rasulullah saw. di atas, mengklasifikasikan ilmu tak bermanfaat dalam empat kategori. Pertama, ilmu pengetahuan yang haram dipelajari, seperti ilmu sihir, ilmu perbintangan dan lain sebagainya. Kedua, ilmu pengetahuan yang tidak dibarengi amal nyata. Ketiga, ilmu pengetahuan yang tidak cukup mampu untuk membersihkan hati dengan etika mulia. Dan yang keempat adalah ilmu pengetahuan yang tidak dibutuhkan dalam agama.[4]

Imam Al-Ghazali memberikan analisis, bahwa pada dasarnya hakikat ilmu itu sendiri bukanlah sesuatu yang tercela. Hanya saja, jika ilmu ini telah berada di benak hamba, akan menjadi tercela karena tiga faktor. Pertama, keberadaan ilmu tersebut akan mendatangkan marabahaya bagi pemiliknya, atau bagi orang lain. Seperti ilmu sihir dan ilmu ramal. Kedua, keberadaan ilmu tersebut biasanya akan menimbulkan dampak negatif, seperti ilmu nujum (perbintangan). Karena sebagian dari ilmu ini justru dipergunakan untuk perhitungan penentuan masuknya waktu sholat, arah kiblat, petunjuk memulai masa tanam, dan manfaat positif lainnya. Hanya saja, karena di samping manfaat-manfaat di atas, ilmu perbintangan juga dipergunakan untuk menebak dan meramal nasib seseorang di masa yang akan datang, maka hal tersebut akan menimbulkan ketidakpercayaan akan qadla’ dan qadar Allah, sehingga menjadikan seseorang keluar dari keimanan.

Ketiga, menekuni secara mendalam ilmu pengetahuan yang menyebabkan pelakunya tidak akan mendapatkan faidah ilmu yang seharusnya. Hal ini jika terjadi skala prioritas yang salah, dengan mendahulukan mempelajari ilmu pengetahuan secara mendalam, sebelum menguasai dasar-dasarnya, atau mempelajari ilmu pengetahuan yang berskala kewajiban kolektif (fardlu kifayah) sebelum menuntaskan penguasaan terhadap ilmu pengetahuan berskala kewajiban individual (fardlu ‘ain). Atau mempelajari ilmu pengetahuan yang tidak selayaknya dipelajari, karena hal tersebut berada di luar jangkauan kemampuan hamba, seperti menelusuri hakikat ketuhanan, sebagaimana yang dilakukan kalangan filosof Yunani, atau menelusuri pengetahuan yang selayaknya hanya bisa diketahui melalui intuisi wahyu.[5]

Demikianlah, keberadaan ilmu nafi’ yang merupakan perantara menuju ketaqwaan kepada Allah SWT. Hanya orang-orang yang berilmu nafi’-lah yang akan mencapai derajat taqwa.

Footnote:
1. Farhan Effendy, “Di Tengah Problem Dunia Pendidikan, Pesantren Mau Apa?” Bina
Pesantren, I, 2004, hlm. 7.
2. Tafsir Jalalain juz I hlm. 275
3. Bariqah Mahmudiyah juz II hlm. 290.
4. Faydl al-Qadîr juz II hlm. 130 dan 194.
5. Ihya juz I hlm. 31-326

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: