Just another WordPress.com site

>

Assalamu’alaikum wr wb,
OLEH:
AFFANNUR
MAHASISWA UNIFERSITAS SAINS AL QUR’AN. JAWATENGAH DI WONOSOBO
FAKULTAS TEKNIK DAN ILMU KOMPUTER SEMESTER 3

Sesungguhnya Islam adalah agama yang menghargai ilmu
pengetahuan. Bahkan Allah sendiri lewat Al Qur’an
meninggikan orang-orang yang berilmu dibanding
orang-orang awam beberapa derajad.

“Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang
beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu
pengetahuan beberapa derajad.” (Al Mujadilah: 11)

Pada surat Ali ‘Imran: 18 Allah SWT bahkan memulai
dengan dirinya, lalu dengan malaikatnya, dan kemudian
dengan orang-orang yang berilmu. Jelas kalau Allah
menghargai orang-orang yang berilmu.

“Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan
Dia, Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan
orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang
demikian itu)” (Ali Imran:18)

Allah juga menyatakan bahwa hanya dengan ilmu orang
bisa memahami perumpamaan yang diberikan Allah untuk
manusia.

“Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buatkan untuk
manusia, dan tiada memahaminya kecuali orang-orang
yang berilmu” (Al ‘Ankabut:43)

Tuhan juga menegaskan hanya dengan ilmulah orang bisa
mendapat petunjuk Al Qur’an.

“Sebenarnya, Al Qur’an itu adalah ayat2 yang nyata di
dalam dada orang-orang yang diberi ilmu” (Al
Ankabut:49)

Nabi Muhammad SAW juga sangat menghargai orang yang
berilmu. “Ulama adalah pewaris para Nabi” Begitu
sabdanya seperti yang dimuat di HR Abu Dawud.

Bahkan Nabi tidak tanggung2 lebih menghargai seorang
ilmuwan daripada satu kabilah. “Sesungguhnya matinya
satu kabilah itu lebih ringan daripada matinya seorang
‘alim.” (HR Thabrani)

Seorang ‘alim juga lebih tinggi dari pada seorang ahli
ibadah yang sewaktu2 bisa tersesat karena kurangnya
ilmu. “Keutamaan orang ‘alim atas orang ahli ibadah
adalah seperti keutamaan diriku atas orang yang paling
rendah dari sahabatku.” (HR At Tirmidzi).
Nabi Muhammad mewajibkan ummatnya untuk menuntut ilmu.
“Menuntut ilmu wajib bagi muslimin dan muslimah”
begitu sabdanya. “Tuntutlah ilmu dari sejak lahir
hingga sampai ke liang lahat.”

Jelas Islam menghargai ilmu pengetahuan dan mewajibkan
seluruh ummat Islam untuk mempelajarinya. Karena itu
pendapat mayoritas ummat Islam (terutama di pedesaan)
yang menganggap bahwa perempuan itu tidak perlu
sekolah tinggi2, soalnya nanti tinggalnya juga di
dapur jelas bertentangan dengan ajaran Islam.

Selain itu Nabi juga menyuruh agar ummat Islam
menuntut ilmu berkelanjutan hingga ajalnya. Karena itu
seorang muslim haruslah berusaha belajar setinggi2nya.
Jangan sampai kalah dengan orang kafir. Ummat Islam
jangan cuma mencukupkan belajar sampai SMA saja, tapi
berusahalah hingga Sarjana, Master, bahkan Doktor jika
mampu. Jika ada yang tak mampu secara finansial,
adalah kewajiban kita yang berkecukupan untuk
membantunya jika dia ternyata adalah orang yang
berbakat.

Sekarang ini, tingkat pengetahuan ummat Islam malah
kalah dibandingkan dengan orang-orang kafir. Ternyata
justru orang-orang kafir itulah yang mengamalkan
ajaran Islam seperti kewajiban menuntut Ilmu
setinggi2nya. Jarang kita menemukan ilmuwan di antara
ummat Islam. Sebaliknya, tingkat buta huruf sangat
tinggi di negara2 Islam.

Hal itu jelas menunjukkan bahwa kemunduran ummat Islam
bukan karena ajaran Islam, tapi karena ulah ummat
Islam sendiri yang tidak mengamalkan perintah
agamanya. Ayat pertama dalam Islam adalah “Iqra!”
Bacalah! Di situ Allah memperintahkan ummat Islam
untuk membaca, tapi ternyata tingkat buta huruf justru
paling tinggi di negara2 Islam. Ini karena kita tidak
konsekwen dengan ajaran Islam.

Nabi juga mengatakan, bahwa ilmu yang bermanfaat akan
mendapat pahala dari Allah SWT, dan pahalanya
berlangsung terus-menerus selama masyarakat menerima
manfaat dari ilmunya..

“Apabila anak Adam meninggal, maka terputuslah amalnya
kecuali tiga, yaitu ilmu yang bermanfaat….”(HR Muslim)

Pada awal masa Islam, ummat Islam melaksanakan ajaran
tsb dengan sungguh2. Mereka giat menuntut ilmu.
Hadits2 seperti “Siapa yang meninggalkan kampung
halamannya untuk mencari pengetahuan, ia berada di
jalan Allah”, “Tinta seorang ulama adalah lebih suci
daripada darah seorang syahid (martir)”, memberikan
motivasi yang kuat untuk belajar.

Ummat Islam belajar dari orang Cina teknik membuat
kertas. Pabrik kertas pertama didirikan di Baghdad
tahun 800, dan perpustakaan pun tumbu dengan subur di
seluruh negeri Arab (baca: Islam) yang dulu dikenal
sebagai bangsa nomad yang buta huruf dan cuma bisa
mengangon kambing.

Direktur observatorium Maragha, Nasiruddin At Tousi
memiliki kumpulan buku sejumlah 400.000 buah. Di
Kordoba (Spanyol) pada abad 10, Khalifah Al Hakim
memiliki suatu perpustakaan yang berisi 400.000 buku,
sedangkan 4 abad sesudahnya raja Perancis Charles yang
bijaksana (artinya: pandai) hanya memiliki koleksi 900
buku. Bahkan Khalifah Al Aziz di Mesir memiliki
perpustakaan dengan 1.600.000 buku, di antaranya
16.000 buah tentang matematika dan 18.000 tentang
filsafat.

Pada masa awal Islam dibangun badan2 pendidikan dan
penelitian yang terpadu. Observatorium pertama
didirikan di Damaskus pada tahun 707 oleh Khalifah
Amawi Abdul Malik. Universitas Eropa 2 atau 3 abad
kemudian seperti Universitas Paris dan Univesitas
Oxford semuanya didirikan menurut model Islam.

Para ilmuwan Islam seperti Al Khawarizmi
memperkenalkan “Angka Arab” (Arabic Numeral) untuk
menggantikan sistem bilangan Romawi yang kaku.
Bayangkan bagaimana ilmu Matematika atau Akunting bisa
berkembang tanpa adanya sistem “Angka Arab” yang
diperkenalkan oleh ummat Islam ke Eropa. Kita mungkin
bisa menuliskan angka 3 dengan mudah memakai angka
Romawi, yaitu “III,” tapi coba tulis angka
879.094.234.453.340 ke dalam angka Romawi. Bingungkan?
Jadi para ahli matematika dan akuntan haruslah
berterimakasih pada orang-orang Islam, he he he..:)
Selain itu berkat Islam pulalah maka para ilmuwan
sekarang bisa menemukan komputer yang menggunakan
binary digit (0 dan 1) sebagai basis perhitungannya,
kalau dengan angka Romawi (yang tak mengenal angka 0),
tak mungkin hal itu bisa terjadi.

Selain itu Al Khawarizmi juga memperkenalkan ilmu
Algorithm (yang diambil dari namanya) dan juga Aljabar
(Algebra).

Omar Khayam menciptakan teori tentang angka2
“irrational” serta menulis suatu buku sistematik
tentang Mu’adalah (equation).

Di dalam ilmu Astronomi ummat Islam juga maju. Al
Batani menghitung enklinasi ekleptik: 23.35 derajad
(pengukuran sekarang 23,27 derajad).

Dunia juga mengenal Ibnu Sina (Avicenna) yang karyanya
Al Qanun fit Thibbi diterjemahkan ke bahasa Latin oleh
Gerard de Cremone (meninggal tahun 1187), yang sampai
zaman Renaissance tetap jadi textbook di fakultas
kedokteran Eropa.

Ar Razi (Razes) adalah seorang jenius multidisiplin.
Dia bukan hanya dokter, tapi juga ahli fisika,
filosof, ahli theologi, dan ahli syair. Eropa juga
mengenal Ibnu Rusyid (Averroes) yang ahli dalam
filsafat.

Dan masih banyak lagi kemajuan yang dicapai oleh ummat
Islam di bidang ilmu pengetahuan. Ketika terjadi
perang salib antara raja Richard the Lion Heart dan
Sultan Saladdin, boleh dikata itu adalah pertempuran
antara bangsa barbar dengan bangsa beradab. Raja
Richard yang terkenal itu ternyata seorang buta huruf,
(kalau rajanya buta huruf, bagaimana rakyat Eropa
ketika itu) sedangkan Sultan Saladin bukan saja
seorang yang literate, tapi juga seorang ahli di
bidang kedokteran. Ketika raja Richard sakit parah dan
tak seorangpun dokter ahli Eropa yang mampu
mengobatinya, Sultan Saladin mempertaruhkan nyawanya
dan menyelinap di antara pasukan raja Richard dan
mengobatinya. Itulah bangsa Islam ketika itu, bukan
saja pintar, tapi juga welas asih. Jika kita menonton
film Robin Hood the Prince of Thieves yang dibintangi
Kevin Kostner, tentu kita maklum bagaimana Robin Hood
terkejut dengan kecanggihan teknologi bangsa Moor
seperti teropong.

Tapi itu sekarang tinggal sejarah. Ummat Islam
sekarang tidak lagi menghargai ilmu pengetahuan tak
heran jika mereka jadi bangsa yang terbelakang. Hanya
dengan menghidupkan ajaran Islam-lah kita bisa maju
lagi.

Ummat Islam harus kembali giat menuntut ilmu. Menurut
Al Ghazali, sesungguhnya menuntut ilmu itu ada yang
fardu ‘ain (wajib bagi setiap Muslim) ada juga yang
fardu kifayah (paling tidak ada segolongan ummat Islam
yang mempelajarinya.

Ilmu agama tentang mana yang wajib dan mana yang halal
seperti cara shalat yang benar itu adalah wajib bagi
setiap muslim. Jangan sampai ada seorang ahli
Matematika, tapi cara shalat ataupun mengaji dia tidak
tahu. Jadi ilmu agama yang pokok agar setiap muslim
bisa mengerjakan 5 rukun Islam dan menghayati 6 rukun
Iman serta mengetahui kewajiban dan larangan Allah
harus dipelajari oleh setiap muslim. Untuk apa kita
jadi ahli komputer, kalau kita akhirnya masuk neraka
karena tidak pernah mengetahui cara shalat?

Adapun ilmu yang memberikan manfaat bagi ummat Islam
seperti kedokteran yang mampu menyelamatkan jiwa
manusia, ataupun ilmu teknologi persenjataan seperti
pembuatan tank dan pesawat tempur agar ummat Islam
bisa mempertahankan diri dari serangan musuh adalah
fardu kifayah. Paling tidak ada segolongan muslim yang
menguasainya.

Semoga kita semua bisa mengamalkan ajaran Islam dan
bisa menegakkan kalimah Allah.

Wassalamu ‘alaikum wr wb
Referensi:
1. Ihya ‘Ulumuddiin karangan Imam Al Ghazali
2. Janji-janji Islam karangan Roger Garaudy

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: